SEKILAS INFO
: - Saturday, 27-02-2021
  • 3 bulan yang lalu / Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMPIT Pesantren Nururrahman Tahun Pelajaran 2021-2022 dilaksanakan mulai tanggal 1 Desember 2020 – 22 Januari 2021. Info lebih lengkap klik ppdd.smpitnururrahman.sch.id

Mau kemana Pendidikan (Islam) di Indonesia?

Oleh: Hidayatullah, M.Pd.I

(Staf Pengajar SMPIT Nururrahman)

 

                Kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia, menurut pendapat sebagian kalangan, kian tahun tidak meningkat bahkan cenderung merosot. Salah satu indikatornya adalah menurunnya moralitas generasi muda yang cenderung makin jauh dari tatanan nilai-nilai yang dikehendaki. Bahkan fenomena ini kian menguat dengan terjadinya degradasi moral dalam berbagai aspek kehidupan, baik kehidupan ekonomi, politik, sosial, dan dunia pendidikan yang seharusnya menjadi garda depan dalam pengembangan moralitas.

                Hal ini tentu tidak sejalan dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia yang bertujuan untuk mencetak generasi penerus yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

                Krisis moral yang melanda generasi muda, acapkali menjadi apologi bagi sebagian orang untuk memberikan kritik pedasnya terhadap institusi pendidikan. Hal tersebut teramat wajar karena pendidikan sesungguhnya memiliki misi yang amat mendasar yakni membentuk manusia seutuhnya dengan akhlak mulia sebagai salah satu indikator utama. Generasi bangsa dengan karakter akhlak mulia inilah yang diharapkan dari praktek pendidikan nasional, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Sisdiknas (UU No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3).

                Berbagai fenomena yang mengkhawatirkan saat ini banyak bermunculan di media massa baik televisi, koran, internet dan lainnya. Fenomena tersebut diantaranya bisa disimak dari berita yang dipublikasikan berbagai media yang seringkali membuat miris siapapun; perkelahian antar pelajar, pergaulan bebas, kasus narkoba di kalangan pelajar, remaja usia sekolah yang melakukan perbuatan amoral, kebut-kebutan di jalanan yang dilakukan remaja usia sekolah, menjamurnya geng motor yang beranggotakan remaja usia sekolah, siswa bermain di pusat perbelanjaan pada saat jam pelajaran, hingga siswa Sekolah Dasar (SD) yang merokok dan berpacaran dengan lawan jenis.

                Indikator lain yang menunjukkan adanya gejala rusaknya karakter generasi bangsa bisa dilihat dari praktek sopan santun siswa yang kini sudah mulai memudar, diantaranya dapat dilihat dari cara berbicara sesama mereka, prilakunya terhadap guru dan orang tua, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat, kata-kata kotor yang tidak sepantasnya diucapkan oleh anak seusianya sering kali terlontar. Sikap ramah terhadap guru ketika bertemu dan penuh hormat terhadap orang tua pun tampaknya sudah menjadi sesuatu yang sulit ditemukan di kalangan anak usia sekolah dewasa ini. Anak-anak usia sekolah seringkali menggunakan bahasa yang jauh dari tatanan nilai budaya masyarakat.

                Lebih jauh lagi, cukup banyak terjadi banyak penyimpangan yang dilakukan oleh siswa atau remaja pada umumnya, mulai dari minum-minuman keras, narkoba, berkelahi, atau yang lebih ekstrim lagi adalah seks bebas (free sex) di kalangan remaja. Sikap materialisme dan hedonisme yang dimiliki anak bangsa ini, pada gilirannya ikut menambah beban permasalahan pada bangunan karakter bangsa Indonesia.

                Bila fenomena mengerikan seperti ini tak segera disikapi dengan cepat dan tepat dan remaja dibiarkan berkembang sendiri tanpa ada arahan yang benar, maka sangat mungkin cita-cita membentuk penerus bangsa yang sesuai dengan Undang-Undang pendidikan nasional tak akan terwujud.

                Krisis yang melanda tersebut mengindikasikan bahwa pendidikan agama dan moral yang didapat di bangku sekolah, tidak berdampak terhadap perubahan perilaku para pelajar. Terlebih pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di sekolah melalui pembelajaran di kelas hanya dialokasikan waktu 2 jam pelajaran setiap minggunya. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang selama ini berlangsung terasa kurang terkait atau kurang concern terhadap persoalan, bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi “makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik, untuk selanjutnya menjadi sumber motivasi bagi peserta didik untuk bergerak, berbuat, dan berperilaku secara konkrit-agamis dalam kehidupan praktisi sehari-hari.                 

                Persoalan-persoalan pendidikan Islam bukan hanya terletak pada persoalan ekstern (lingkungan, masyarakat dan kondisi global), tapi juga harus menghadapi permasalahan-permasalahan yang kompleks, dari permasalahan konseptual-teoritis, hingga permasalahan operasional-praktis. Tidak terselesaikannya persoalan ini menjadikan pendidikan Islam tertinggal dengan lembaga pendidikan lainnya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sehingga pendidikan Islam terkesan sebagai pendidikan “kelas dua”. Tidak heran jika kemudian banyak dari generasi muslim yang justru menempuh pendidikan di lembaga pendidikan non Islam.

                Jarang ada orang mau mengakui dengan jujur, sistem pendidikan kita adalah sistem yang sekular-materialistik. Biasanya yang dijadikan argumentasi, adalah UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab II Pasal 3 yang berbunyi, “Pendidikan nasional bertujuan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” .

                Tapi perlu diingat, sekularisme itu tidak otomatis selalu anti agama. Tidak selalu anti “iman” dan anti “taqwa”. Sekularisme itu hanya menolak peran agama untuk mengatur kehidupan publik, termasuk asfek pendidikan. Jadi, selama agama hanya menjadi masalah pribadi dan tidak dijadikan asas untuk menata kehidupan publik seperti sebuah sistem pendidikan, maka sistem pendidikan itu tetap sistem pendidikan sekular, walaupun para individu pelaksana sistem itu beriman dan bertaqwa (sebagai perilaku individu).

                Penyelesaian problem mendasar tentu harus dilakukan secara fundamental. Itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perombakan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi paradigma Islam. Ini sangat penting dan utama.

                Ibarat mobil yang salah jalan, maka yang harus dilakukan adalah mengubah haluan atau arah mobil itu terlebih dulu, menuju jalan yang benar agar bisa sampai ke tempat tujuan yang diharapkan. Tak ada artinya mobil itu diperbaiki kerusakannya yang macam-macam selama mobil itu tetap berada di jalan yang salah. Setelah membetulkan arah mobil ke jalan yang benar, barulah mobil itu diperbaiki kerusakannya yang bermacam-macam. Artinya, setelah masalah mendasar diselesaikan, barulah berbagai macam masalah cabang pendidikan diselesaikan, baik itu masalah rendahnya sarana fisik, kualitas guru dan kesejahteraan guru.

                Pada akhirnya, Pendidikan (Islam) akan selalu berhadapan dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Mampukah pendidikan mewujudkan khittahnya? Atau sebaliknya pendidikan hanya membentuk siswanya tak ubah bagai robot yang bersaing memperebutkan deretan nilai yang terpampang dalam selembar kertas bernama ijazah. Semua berpulang kepada seluruh pihak yang berkepentingan terhadap dunia pendidikan. (day) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Site Statistics

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 14
  • Total visitors : 24,658

Maps Sekolah