SEKILAS INFO
: - Saturday, 27-02-2021
  • 3 bulan yang lalu / Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMPIT Pesantren Nururrahman Tahun Pelajaran 2021-2022 dilaksanakan mulai tanggal 1 Desember 2020 – 22 Januari 2021. Info lebih lengkap klik ppdd.smpitnururrahman.sch.id

RELAWAN

Oleh Sawsan Azura

 “Hah…” untuk yang kesekian kalinya, Lazuardi kembali menghela nafas. Hasan dan Zainab yang asyik mengobrol pun langsung menoleh ke arah sahabat mereka.

“Hai, sobat, ada apa?” tanya Hasan menepuk bahu Lazuardi.

“Kau terlihat lesu. Apa ada masalah?” ucap Zainab.

“Tidak apa-apa,” jawab Lazuardi pelan, namun masih tertangkap oleh indera pendengaran kedua sahabatnya.

Hasan terlihat tidak puas mendengar jawabannya, ia pun kembali berkata, “hai… kita kan sahabat, ceritakan pada kami apa yang membuatmu resah.”

Lazuardi menatap Zainab dan langsung mendapatkan anggukan setuju. Ia menyerah, mungkin lebih diceritakan saja, fikirnya.

“Kalian tahu kan, kalau aku sangat menyukai Palestina?” ucapnya memulai. Kedua sahabatnya mengangguk. “Kemarin kulihat di berita, katanya Gaza kembali diserang dan korbannya kebanyakan anak-anak yang sedang bermain.”

Mendengarnya, kedua mata Hasan dan Zainab membelalak kaget. Hasan mengangguk pelan, minta dilanjutkan.

“Aku sangat ingin pergi kesana, menjadi relawan. Tapi…”

Zainab menangkap maksud sahabatnya dengan cepat. “Kalau itu masalahmu, kurasa aku bisa membantu.”

Mata Lazuardi yang tadinya terlihat sedih seketika memancarkan harapan pada Zainab. “Benarkah?”

Hasan terkekeh melihat tingkah laku sahabatnya. Ia pun angkat bicara. “Tentu saja, karena mimpimu sama dengan kami. Hanya saja kami belum sempat mendengar berita itu.”

“Kurasa di mading ada pengumuman untuk menjadi relawan ke Palestina,” gumam Zainab.

“Serius? Kalau begitu ayo cepat lihat!” sorak Lazuardi, lalu berlari keluar kelas meninggalkan Hasan dan Zainab.

“Ha ha… moodnya benar-benar berbalik dari yang tadi,” tawa Hasan. Zainab mengangguk setuju. Mereka pun keluar menyusul Lazuardi yang sudah berdiri antusias di mading sekolah.

“Lazuardi!”

Mendengar namanya dipanggil, matanya yang sedari tadi antusias spontan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

“Hasan, Zainab, daftar yuk!” ajak remaja itu. Jari telunjuknya menunjuk pengumuman yang berisi pendaftaran menjadi relawan ke Palestina. Tanpa basa basi, kedua remaja yang diajak langsung setuju.

Dua minggu kemudian.

Seorang remaja berdiri di pintu masuk. Ia terlihat gelisah dan sesekali melirik arloji di tangannya.

“Zainab!” remaja itu menoleh, melihat sobatnya berlari ke arahnya dengan sebuah koper.

“Lazuardi! Kenapa kau lama sekali? Mana Hasan?” geram Zainab dengan mata sedikit memerah.

Lazuardi mencoba mengatur nafasnya setelah berhasil menyusul Zainab.

“Hah… hah… ma.. maaf… tadi di jalan sempat ada kecelakaan kecil. Dan aku tidak… tahu dimana… Hasan… fuuh…”

“Lalu dimana dia…” ucapan Zainab terputus akibat sebuah seruan.

“Zainab! Lazuardi!”

“Hasan!” seru Lazuardi.

“Sudah, ayo berangkat! Sudah hampir jadwal penerbangan pesawat kita,” kata Hasan.

“Sejak kapan kau datang?” tanya Zainab.

“Sejak jam 8 tadi.”

Putaran waktu terus berlalu. Perjalanan panjang ketiga sahabat itu sebentar lagi berakhir. Mereka menikmati langit malam yang bertaburan benda-benda gemilang. Saat itu mereka sedang di kapal hendak ke Gaza.

Hey, aren’t you guys cold?” tanya seseorang gadis berambut pirang.

Ah no, we’re fine,” jawab Zainab tersenyum. “What’s your name?

I’m Clarisse, from Canada. How about you guys?

Hi, I’m Zainab, and these are my friends, Lazuardi and Hasan. We’re from Indonesia.

Indonesia? Oh, my mom is from that country!” sorak Clarisse. “Oh, check this out, my mom taught me this.

Zainab, Lauzardi dan Hasan saling berpandangan. Detik berikutnya, sesuatu mengejutkn mereka.

“Halo, namaku Clarisse! Aku dari Kanada dan aku menyukai coklat hangat!”

“Wah, hebat!” puji Hasan.

Dor! Dor!

“Apa itu?!”

Suasana kapal pun kalang kabut. Orang-orang dewasa menyuruh mereka memakai rompi!” t anti peluru.

“Di sana! Ada kapal Zionis datang kemari teriak seseorang.

“Apa! Bagaimana bisa?” pekik Hasan.

Para relawan berusaha melindungi diri dari serangan mendadak Zionis. Namun tidak ada yang sadar kalau Zainab menghilang.

“Tunggu,” kata Lazuardi. “Dimana Zainab?”

Mereka berdua terpojok di sisi kapal. Para zionis mengacungkan senjata, namun mendadak mereka runtuh.

“Kalian kurang waspada.”

2 bulan setelahnya…

Lazuardi berdiri di tanah pemakaman tempat para syuhada disemayamkan. Matanya bergantian menatap dua batu nisan bertuliskan nama sahabatnya.

“Zainab… Hasan… untuk yang kedua kalinya, kalian meninggalkanku sendiri,” bisik Lazuardi sangat pelan. “Tunggu saja, aku akan menyusul kalian.”

Remaja itu berbalik, menyusul relawan yang masih hidup untuk kembali pulang.

“Assalamu’alaikum sahabatku…” dan ia pun tersenyum pada mereka untuk yang terakhir kalinya.

“KARENA KITA ADALAH PARA PENCARI SYAHID” []               

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Site Statistics

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 14
  • Total visitors : 24,658

Maps Sekolah