SEKILAS INFO
: - Sunday, 26-09-2021
  • 2 bulan yang lalu / Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Pelajaran 2021-2022 dilaksanakan pada 26-30 Juli 2021
  • 2 bulan yang lalu / Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Pelajaran 2021-2022 dilaksanakan pada 26-30 Juli 2021

Tingginya angka penyandang Disabilitas Intelektual di Indonesia, maka diperlukan satu wadah yang tepat untuk mendukung upaya-upaya yang dilakukan dalam proses memandirikan penyandang Disabilitas Intelektual. Penyandang Disabilitas Intelektual adalah mereka yang dinilai oleh psikolog menderita kelemahan dalam berpikir dan belajar, serta kesulitan dalam berbicara dan mengeluarkan pendapat. Bila diukur melalui tes IQ, rata-rata nilai mereka berada di bawah angka 70. Namun sebagai masyarakat, mereka memiliki hak untuk hidup secara layak, bersosialisasi dan mengembangkan potensi dirinya. Melalui program olahraga khusus ini, diharapkan mereka mampu memenuhi fungsi sosialnya, dapat mandiri dan menjadi warga masyarakat yang dihargai. Untuk itulah, Special Olympic hadir menjadi wadah untuk mereka.

Special Olympics adalah sebuah gerakan global didirikan oleh Eunice Kennedy Shriver pada tahun 1968 dan karena kekhususannya, telah diakui oleh International Olympics Committee (IOC) sebagai satu-satunya olimpiade olahraga khusus Penyandang Disabilitas Intelektual di dunai. Sekitar 170 negara telah bergabung dalam gerakan Special Olympics. Indonesia yang mendapat akreditasi dari pemerintah Indonesia dan Special Olympics International (SOI) untuk menyelenggarakan pelatihan dan kompetisi olahraga bagi warga Disabilitas Intelektual di Indonesia. Indonesia bergabung menjadi anggota Special Olympics ke-79 pada 9 Agustus 1989.

Special Olympics bermula saat diselenggarakannya olahraga musim panas bagi penyandang Disabilitas Intelektual di Chicago, USA, pada tahun 1968. Sekitar 1.000 atlet dari USA dan Canada meramaikan kegiatan kompetisi yang digelar pada musim panas itu. Kegiatan itu selanjutnya berkembang menjadi Special Olympics Interntional yang berkantor pusat di Washington DC, USA. Pendiri Special Olympics, Mrs Eunice Kennedy Shriver, penuh semangat mendorong perluasan program Special Olympics ke seluruh belahan dunia. Dalam pelaksanaan kegiatannya, SOI didanai oleh The Joseph F Kennedy Jr Foundation.

Tujuan kegiatan olahraga ini, antara lain memberikan kesempatan kepada penyandang Disabilitas Intelektual untuk berprestasi dalam kehidupan yang layak sekaligus bersosialisasi antara sesama penyandang Disabilitas Intelektual, maupun masyarakat luas.

Saat ini Pengurus Pusat SOIna periode 2015-2019 diketuai oleh Prof. DR. Faisal Abdullah, SH, M.Si., DFM dengan pelindung Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Kementerian Sosial RI, Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.

http://perusahaan.herbalife.co.id/Content/id-ID/img/company/berita/soina.jpg

Special Olympics (SO) logo dibentuk oleh 5 pillar:

1. Atlet,

2. Keluarga,

3. Pelatih,

4. Relawan,

5. Donor/Sponsor

Setiap orangnya memiliki 3 tangan:

Tangan yang dibawah – sebelum bergabung dengan SO (tidak punya teman, kepercayaan diri rendah, tidak terlalu sehat),

Tangan ditengah – setelah bergabung di SO (memiliki beberapa teman, memiliki sedikit kepercayaan diri, mulai memiliki hidup  yang sehat),

Tangan diatas – mendapatkan keuntungan penuh dari SO (memilki banyak teman, tinggi tingkat kepercayaan diri, memiliki hidup & badan yang sehat).

Rabu, 14 Maret 2018, bertempat di SMPIT Nururrahman, SOIna (Special Olympics Indonesia) hadir mengusung tema Unified Youth Activation, yaitu program yang ditujukan bagi atlet-atlet Tunagrahita yang berusia di bawah 17 tahun untuk disatukan dengan teman seusianya yang non atlet agar terjalin hubungan persahabatan dan menghilangkan stigma negatif terhadap anak-anak Disabilitas Intelektual.

Dalam kegiatan ini juga dilakukan R-word Campaign yaitu program kampanye penghilangan kata “retardasi” atau “keterbelakangan mental” dari bahasa sehari-hari menjadi kata “Respect” atau “penghormatan”.

Hadir dalam kesempatan tersebut 2 orang atlet yaitu Stephanie Handojo dan Monica didampingi oleh Ibu Sisca dan Ibu Anastasia, yang berbagi kisah dan pengalaman mereka dalam berbagai even internasional.

Dengan kehadiran mereka, kiranya bisa menjadi sumbangsih positif bagi siswa/i SMPIT Nururrahman khususnya kelas 9 bahwa tak ada satupun yang tidak bisa dicapai jika kita mau berusaha dan bekerja keras.

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Site Statistics

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 16
  • Total visitors : 28,716

Maps Sekolah