SEKILAS INFO
: - Thursday, 25-02-2021
  • 2 bulan yang lalu / Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMPIT Pesantren Nururrahman Tahun Pelajaran 2021-2022 dilaksanakan mulai tanggal 1 Desember 2020 – 22 Januari 2021. Info lebih lengkap klik ppdd.smpitnururrahman.sch.id
Mengenal Sejarah Hari Santri

Hari Santri Nasional (HSN) jatuh pada tanggal 22 Oktober setiap tahunnya. Peringatan ini, ditetapkan oleh pemerintah pada tanggal 22 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta. Penetapan Hari Santri Nasional dimaksudkan untuk meneladankan semangat jihad kepada para santri tentang keindonesiaan yang digelorakan para ulama. Tanggal 22 Oktober merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh Hadratus Saikh, KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Seruan ini berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan. Sekutu ini maksudnya adalah Inggris sebagai pemenang Perang Dunia II untuk mengambil alih tanah jajahan Jepang. Di belakang tentaran Inggris, rupanya ada pasukan Belanda yang ikut membonceng.

Aspek lain yang melatarbelakangi penetapan HSN ini adalah pengakuan resmi pemerintah atas peran besar umat Islam dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta menjaga NKRI. Ini sekaligus merevisi beberapa catatan sejarah nasional yang hampir tidak pernah menyebut peran ulama dan kaum santri.

Peran Besar Ulama dan Kaum Santri

Sebelum datang Brigade 49 Divisi India Tentara Inggris pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, kalangan santri merasa tentara asing akan datang dan perang tak bisa dihindarkan. Di Surabaya yang panas pada akhir Oktober 1945, para kiai pun berkumpul. Mereka mantap berdiri di belakang Republik Indonesia. Setidaknya waktu itu Wahid Hasyim, anak dari Rais Akbar NU KH. Hasyim Asy’ari, adalah Menteri Agama Republik Indonesia sejak September 1945. Hasyim Asy’ari sendiri merupakan ulama besar yang berpengaruh sejak zaman kolonial hingga pendudukan Jepang.

“Pada tanggal 21 dan 22 Oktober 1945, wakil-wakil cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya dan menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad (perang suci),” tulis Martin van Bruinessen dalam NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994: 52). Dalam pertemuan itu lahirlah apa yang dikenal sebagai Resolusi Jihad.

Lewat Resolusi Jihad, kaum santri “memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap pihak Belanda dan kaki-tangannya.” Bagi NU, baik Belanda maupun Jepang telah berbuat kezaliman di Indonesia.

Sebelum Oktober 1945 berakhir, pertempuran melawan Jepang sudah terjadi di beberapa tempat selain di Surabaya. Kaum santri juga ikut adu otot melawan tentara asing. Meski tidak punya pasukan yang kemampuan tempurnya setara dengan tentara Jepang, mereka setidaknya memiliki pemuda-pemuda yang siap bertempur yang dilatih selama masa pendudukan.

Resolusi Jihad punya dampak besar di Jawa Timur. Pada hari-hari berikutnya, ia menjadi pendorong keterlibatan banyak pengikut NU untuk ikut serta dalam Pertempuran 10 November 1945. Pemuda Sutomo alias Bung Tomo bahkan diketahui meminta nasihat kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Bung Tomo dikenal sebagai orator dalam Pertempuran 10 November 1945 yang membakar semangat arek-arek Surabaya, salah satunya dengan pekikan “Allahu Akbar”-nya.

Setelah pertempuran 10 November 1945 berlalu, Resolusi Jihad terus disuarakan. Dalam Muktamar Nahdlatul Ulama pada 26-29 Maret 1946 di Purwokerto, seperti disebut di buku Jihad Membela Nusantara: Nahdlatul Ulama Menghadapi Islam Radikal dan Neo-Liberalisme (2007), KH. Hasyim Asy’ari kembali menggelorakan semangat jihad di hadapan para peserta muktamar.

“Tidak akan tercapai kemuliaan Islam dan kebangkitan syariatnya di dalam negeri-negeri jajahan,” kata Kiai Hasyim. Jadi syarat tegaknya syariat Islam adalah kemerdekaan dari penjajah asing. Eksistensi penjajah dianggap Kiai Hasyim akan menyulitkan penegakan syariat Islam.

Maka sesungguhnya penetapan Hari Santri bukan semata mementingkan ritual/perayaan seremonial belaka, tapi lebih penting lagi adalah penegakan syariat Islam secara murni dan konsekuen. (disarikan dari tirto.co.id)

TINGGALKAN KOMENTAR

Site Statistics

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 28
  • Total visitors : 24,604

Maps Sekolah