Info Sekolah
Selasa, 21 Mei 2024
  • Team IT NR Masih bekerja Keras Terus berinovasi untuk menunjang Proses belajar mengajar di SMPIT Nururrahman, Nantikan Segera Launching Perpustakaan Digital .....
  • Team IT NR Masih bekerja Keras Terus berinovasi untuk menunjang Proses belajar mengajar di SMPIT Nururrahman, Nantikan Segera Launching Perpustakaan Digital .....
25 Juli 2023

BASHIRAH DALAM AL-QUR’AN

Sel, 25 Juli 2023 Dibaca 1981x SAMUDERA SPIRITUAL

Oleh : DR. H. Soetrisno Hadi, SH, MM, M.Si

Selama ini ada tuduhan bahwa tasawuf itu bid’ah atau sesuatu yang mengada-ada. Tidak ada dalilnya, baik dalam Al-Qur’an maupun as-Sunnah.

Padahal, semua yang dibicarakan dan dipraktikkan dalam tasawuf mempunyai dasar yang jelas, terang benderang dan dapat dipertanggungjawabkan.

Misalnya, salah satu pokok bahasan dalam ilmu tasawuf adalah tentang bashirah atau jendela hati (nafadz al-qalb). Dalam literatur sufisme sering dimaknai dengan pandangan batin atau nurani. Terkadang disebut dengan bashar al-qalb, pandangan atau lintasan hati.

Dari segi literasi, kitab-kitab terkait tasawuf juga amat banyak. Baik dari kalangan cendekiawan muslim seperti Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Ibnu Manzhur, Fakhr ar-Razi dalam tafsirnya, Muhammad Farid Wajdi, Sa’id Hawwa, Ibrahim Anies, bahkan dari Barat seperti Armstrong dalam Sufi Terminology serta masih banyak lagi.

Bashirah dikenal dalam Al-Qur’an, misalnya Qs. al-Qiyamah (75): 14-15 atau dalam Qs. Yusuf (12): 108. Begitu juga dalam as-Sunnah, misalnya Rasulullah, saw berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, dalam penglihatanku, dalam pendengaranku, dari arah kananku, dari arah kiriku, di atasku, di bawahku, di depanku, dan jadikanlah cahaya untukku” (HR.Bukhari). Cahaya dalam hadits itu adalah bashirah.

Bashirah juga untuk merujuk pada salah satu sifat Allah SWT yaitu bashir (Maha Melihat) (Qs. al-Hadid [57]: 4). Syaikh Ibnu ‘Atha’illah, rahimahullah mengomentari ayat itu mengatakan sinar bashirah memperlihatkan padamu kedekatan-Nya denganmu.

Melalui Qs. Qaaf [50]: 16, Allah SWT itu lebih dekat dari urat leher, maka dengan bashirah, orang bisa merasakan kedekatan itu secara aktif. Dalam Qs. al-Waqi’ah (56): 85, Allah SWT itu lebih dekat pada hamba-Nya, tetapi banyak yang tidak melihat. Melalui bashirah inilah orang bisa merasakan bahkan melihat kebenaran itu.

Dalam praktik di lapangan, bagaimana Sayyidina Umar ibn al-Khaththab, r.a. memimpin perang yang terjadi di Iraq dari atas mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Kebenaran itu diakui dalam testimoni para sahabat yang ikut dalam perang itu setelah mereka kembali ke Madinah.

Kecerdasan hati atau bashirah itu akan terbentuk melalui ibadah puasa Ramadhan yang sedang kita jalani kini dengan mengikuti petunjuk Rasulullah, saw. Selain bisa meningkat menjadi mukasyafah, musyahadah sehingga sampai pada ma’rifat pada Allah SWT.

Semoga Allah SWT terus memberi tawfiq, hidayah, dan ‘ inayah-Nya pada kita sekalian sehingga dapat menjadikan puasa ini sarana meningkatkan kecerdasan hati/bashirah. (*)

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Our Visitor

0 1 7 2 6 9
Users Today : 20
Users Yesterday : 51
Total Users : 17269
Views Today : 28
Views This Month : 1639
Total views : 30035

Contact info