SEKILAS INFO
: - Sunday, 19-09-2021
  • 1 bulan yang lalu / Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Pelajaran 2021-2022 dilaksanakan pada 26-30 Juli 2021
  • 1 bulan yang lalu / Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Pelajaran 2021-2022 dilaksanakan pada 26-30 Juli 2021
AGAR HIDUP MAKIN BERKAH

Barokah atau berkah merupakan kondisi yang pasti selalu diinginkan oleh setiap orang. Namun sebagian kalangan, salah kaprah dalam memahami makna berkah sehingga berdampak pada upaya yang keliru untuk meraihnya. Lihat saja, bagaimana sebagian masyarakat kita ada yang berlomba-lomba mengharap berkah dari benda-benda yang dianggap aneh dan ajaib. Ada misalnya, orang yang ngalap berkah dari batu cincin, benda-benda pusaka atau bahkan dari kotoran kerbau. Tidak logis dan diluar nalar memang, tapi nyata terjadi. Ini sangat mungkin terjadi lantaran salah paham dalam memahami makna keberkahan dan cara meraihnya.

Padahal jika ditinjau secara bahasa, berkah berasal dari kata barokah (البركة), yang dalam Kamus Al-Munawwir diartikan dengan kata nikmat. Secara istilah, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali, berkah berarti زیادة الخیر (ziyadatul khair,) yakni “bertambahnya kebaikan terus menerus. Demikian pula dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berkah diartikan sebagai “karunia Allah yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”.

Masyarakat yang berkah adalah masyarakat yang jauh dari dosa-dosa dan maksiat. Sebaliknya masyarakat yang penuh dengan dosa-dosa dan kemaksiatan adalah masyarakat yang rentan. Ibarat tubuh yang penuh dengan penyakit dan kotoran, maka ia tidak produktif dan bahkan tidak bisa diharapkan muncul kebaikan. Jika merujuk pada Al-Qur’an, keberkahan suatu masyarakat mempunyai syarat khusus, sebagaimana ditegaskan dalam surat ke-7 yaitu surat Al-A’raf ayat 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ .

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Qs. Al-A’raf: 96)

Isyarat yang diberikan Al-Quran itu menggambarkan bahwa limpahan yang turun dari semua tempat, bersumber dari semua lokasi, tanpa batas, tanpa perincian, dan tanpa penjelasan. Merujuk ayat di atas, maka ada dua kata kunci yang dapat dilakukan untuk menuju gerbang keberkahan dan memasukinya.

Pertama, آمَنُوا وَاتَّقَوْا  (iman dan takwa). Bagaimana merealisasikan keimanan dalam keseharian dan meningkatkan ketaqwaan dalam setiap amalan. Inilah kunci utama guna meraih keberkahan hidup.

Untuk memperkuat dan menambah keimanan kepada Allah, Imam Al-Haddad menerangkan dalam kitab Risalatul Muawanah lir Râghibîn minal Mu’minîn fî Sulûk Tharîqah al-Âkhirah bahwa ada tiga cara untuk menuju hal tersebut. Pertama, mendengarkan ayat Al-Qur’an dan hadits yang didalamnya disebutkan perihal janji Allah SWT, ancaman-Nya, perkara-perkara akhirat, kisah-kisah nabi, mukjizat, serta hukuman bagi mereka yang menentang para nabi. Begitu juga mendengarkan kezuhudan salafussalihin di kehidupan dunia dan kecintaan mereka kepada akhirat.

Kedua, menyaksikan kebesaran Allah lewat penciptaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang menakjubkan. Betapa banyak tanda-tanda kebesaran Allah yang jika kita renungkan, akan makin mempertebal keimanan dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah saw mengatakan, “Merenung sesaat lebih besar nilainya daripada amal-amal kebajikan yang dikerjakan oleh dua jenis makhluk (manusia dan jin).” (HR Ibnu Majah).

Dan ketiga yaitu melaksanakan amal saleh secara teratur, istiqamah, berkesinambungan, atau terus menerus. Inilah sesungguhnya yang disukai oleh Rasulullah, sebagaimana diungkapkan dalam haditsnya:

أَحَبَُالْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal (kebaikan) yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.” (HR Muslim)

Inilah tiga kiat yang dapat menjadikan manusia sebagai hamba yang mampu merealisasikan keimanan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Kata kunci kedua, untuk meraih keberkahan adalah menghindari atau menjauhkan diri dari hal-hal yang akan menghilangkan keberkahan yaitu mendustakan ajaran dan ayat-ayat Allah, sehingga kemudian menyebabkan terperosok ke dalam kubangan kemaksiatan.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam salah satu bukunya “Al jawaabul Kaafii liman  Sa’ala ‘anid Dawaaisy Syaafii” menyebutkan beberapa bahaya dan pengaruh dosa terhadap kehidupan pribadi dan masyarakat yang akan membawa pada hilangnya keberkahan. Di antaranya adalah pertama, dosa memperlemah kesadaran akan keagungan Allah dalam hati.

Seorang yang penuh dengan dosa-dosa tidak akan lagi bersungguh-sungguh mengagungkan Allah. Kaki akan terasa malas dan berat untuk melangkah ke masjid dan menghadiri pengajian. Badan terasa sulit untuk bangun pada waktu fajar melaksanakan shalat subuh. Telinga tidak suka lagi mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga lama kelamaan hatinya menjadi  keras seperti batu. Jika itu terjadi, maka hatinya tidak akan lagi bergetar terhadap keagungan Allah.

Kedua, dosa membuat seseorang tidak mempunyai rasa malu. Seseorang yang biasa berbuat dosa, lama-kelamaan tidak akan merasa telah berdosa. Bahkan ironisnya, ia tidak merasa malu berbuat dosa di depan siapapun. Bila rasa malu hilang, maka hilanglah kebaikan. Dengan demikian pula dengan masyarakat yang gemar berbuat dosa, tidak akan malu menampakkan dosanya di tempat umum. Malah bisa jadi ada anggapan, bahwa perbuatan dosa tersebut merupakan sebuah kewajaran di masyarakat tersebut. Ini misalnya dapat kita lihat di masyarakat kita, betapa banyak orang tidak malu lagi melakukan kejahatan ataupun kemaksiatan.

Ketiga, dosa akan menghilangkan keberkahan dan nikmat serta menggantikannya dengan bencana. Allah SWT, naudzubillah tsumma naudzubillah. Inilah yang kita khawatirkan terjadi di masyarakat kita sebagaimana telah dialami umat-umat terdahulu. Lihatlah, apa yang terjadi pada kaum Sodom, yaitu kaum dimana Nabi Luth diutus. Betapa bagi kaum Sodom, praktik LGBT menjadi sebuah kewajaran untuk mereka. Maka Allah angkat keberkahan dari kaum tersebut dan berganti menjadi bencana yang sangat dahsyat.

Keberkahan yang kita inginkan dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara ini, tentunya tidak akan terwujud hanya dengan teori-teori dan arahan tanpa adanya kesadaran untuk saling mengingatkan dan keinginan untuk mau mendengarkan dan menerima kebenaran, serta adanya kepedulian untuk saling menghargai, saling mencintai, saling membantu dan memenuhi hak dan kewajiban. Bukankah Allah mengingatkan agar kita selalu saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. Mudah-mudahan kita senantiasa menjadi umat Rasul yang mampu istiqamah meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, aamin ya rabbal alamin.(*)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Site Statistics

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 5
  • Total visitors : 28,501

Maps Sekolah