KOMUNIKASI IMAJINER
Oleh : DR. H. Soetrisno Hadi, SH, MM, M.Si
Kini, kita hidup di era informasi di mana pemanfaatan perangkat elektronik berasal dari produk teknologi informasi (IT) begitu massif .
Dengan perangkat itu (electronic devices) kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja baik secara individual maupun kolegial. Jarak yang semula jauh jadi dekat, sesuatu yang dulu sulit sekarang mudah.
Dulu, jual beli dilakukan secara konvensional bertemunya pembeli dan penjual di pasar. Sekarang orang bisa melakukannya secara daring dalam online business.
Tetapi, kelebihan produk IT itu tidak dapat mengungguli produk teknologi ilahi. Komunikasi inter personal itu hanya bisa dilakukan antara mereka yang hidup. Dalam teknologi ilahi, yang hidup bisa berkomunikasi dengan yang mati. Orang bisa melakukan komunikasi imajiner. Mana buktinya, sejumlah dalil berikut ini mengindikasikan adanya komunikasi imajiner itu.
Ada pertanyaan yang disampaikan, bisakah orang mati mendengar salam orang yang hidup ketika menziarahinya.
Pertama, "Tidaklah seseorang yang melewati kuburan orang yang dikenal semasa hidup nya, lalu ia mengucapkan salam kepadanya. Melainkan, mayat itu akan menjawab salamnya" (HR.Bukhari).
Kedua, dalam kitab Faidh al-Qadir Imam al-Manawi mengatakan bahwa Al-Hafizh al-Iraqi, berkata bahwa menjawab salam dan dikembalikannya ruh bagi si mayit itu bisa terjadi. Imam al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin berkata bahwa mati adalah berpisahnya ruh dari jasad. Meski begitu, keduanya masih tetap bisa berkomunikasi.
Ketiga, bukti lain, bahwa Rasulullah saw pernah berkomunikasi dengan orang yang sudah mati yaitu orang-orang kafir seperti Abu Jahal yang mati dalam Perang Badar. Ketika itu, Umar bin Khaththab,ra berkata, 'Ya Rasulullah, mengapa engkau berbicara dengan orang yang sudah jadi bangkai ?'.
Rasulullah,saw menjawab, "Demi Zat yang mengutusku dengan kebenaran, sesungguhnya engkau tidak lebih tajam pendengarannya dari pada mereka, tetapi jawaban mereka tidak terdengar olehmu" (HR.Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).
Keempat, Prof. Dr. Ali Jum'ah Muhammad, Mufti Besar Mesir, mengatakan bahwa berdasarkan alasan-alasan naqli dan sejumlah hadits lainnya. Orang yang mati akan merasakan dan mengetahui siapa yang datang berziarah padanya. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk mengucapkan salam dan doa kepada orang yang sudah meninggal.
Kelima, Ibnu Taymiyyah dalam Fatawa -nya mengatakan bahwa mayit itu bisa mendengar salam dan ucapan orang yang hidup. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa ketika seorang peziarah mengucapkan salam, sesungguhnya ia sedang mengucapkan salam kepada orang yang bisa mendengar (Lihat : Al-Fatawa al-Kubra dari Ibnu Taymiyyah).
Berangkat dari alasan-alasan itu, dapat disimpulkan bahwa mayit merasa senang jika diziarahi dan ia akan menjawab salam darinya. Karena, sesungguhnya orang yang mati bukan berarti tidak ada. Tetapi, ruh orang yang mati akan tetap berhubungan dengan jasadnya. Itu sebabnya, kita layak memohon pada Allah SWT agar tetap bisa berbuat baik dan mendo'akan saudara, anak atau kerabat yang sudah meninggal dunia. Wa Allah waliy at-tawfiq wa al-hidayah. (*)
Komentar (0)
Komentar akan tampil setelah disetujui oleh admin.