Literasi merupakan salah satu kemampuan dasar yang sangat penting dalam kehidupan individu maupun masyarakat. Dalam konteks yang lebih luas, literasi tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari.  Dalam kitab suci Alqur’an, giat literasi sudah dimulai dalam perintah Allah SWT, dalam wahyu pertama yang disampaikan melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad SAW, yang berbunyi “Iqro” yang berarti “bacalah”. Pada Konteks memahami, AlQuran mengandung banyak perintah dan anjuran untuk “berpikir”. Sementara itu menurut  Anderson & Pearson (1984) menyatakan bahwa literasi melibatkan proses berpikir yang kompleks, termasuk kemampuan menganalisis, menyintesis, dan mengevaluasi informasi. Dengan kata lain, literasi tidak hanya sebatas mengenali huruf atau kata, tetapi juga memahami makna dan konteks dari informasi yang disajikan. Menurut Freire (1970), literasi merupakan alat pembebasan yang memungkinkan seseorang untuk memahami realitas sosialnya dan mengubahnya. Freire menekankan pentingnya literasi kritis, yaitu kemampuan untuk membaca dunia, bukan hanya membaca kata. Dalam beberapa pengertian dan tersebut dapat dicondongkan bahwa langkah awal literasi adalah membaca. Namun sayangnya minat baca kemampuan literasi masyrakat Indonesia tergolong rendah. Mengutip dari laman https://www.suluah.id/2024/01/minat-baca-masyarakat-indonesia-masih Berdasarkan data dari UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya mencapai 0,001%, yang berarti dari 1.000 orang, hanya satu yang gemar membaca buku. Survei Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia membaca 3,8 buku per tahun, jauh di bawah rata-rata negara maju seperti Amerika Serikat yang mencapai 12,2 buku per tahun. Dengan faktor tersebut lembaga-lembaga pendidikan Indonesia memiliki “PR” besar dalam memajukan literasi di sekolah. SMPIT Pesantren Nururrahman menitik beratkan persoalan tersebut pada penguatan literasi guru dan karyawan serta seluruh warga sekolah, guna ke depannya berlanjut pada penerapannya untuk peserta didik. Pada Rabu, 16 April 2025 diselenggarakan “Pelatihan Pengembangan Literasi Sekolah” yang dilaksanakan di Aula SMP. Kegiatan tersebut diisi oleh Ibu Nur Indrawati Pary, S.IP. sebagai narasumber dan para pendidik sebagai pesertanya. Dalam pemaparannya Bu Indra menyampaikan berbagai hal elementer tentang rendahnya literasi masyarakat, yang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti budaya membaca yang belum terbangun, keterbatasan perpustakaan dan kesadaran akan pentingnya membaca buku. Dalam penyampaiannya Bu Indra juga membagikan pengalaman pribadinya dalam proses mencintai buku, mencintai ilmu, mencintai perpustakaan. Kegiatan tersebut dilaksanakan mulai dari pukul 14.00 s.d 14.05 WIB. Para peserta menunjukan antusiasnya dengan melayangkan berbagai pertanyaan seputar penerapan literasi di sekolah. Menurut ketua Pelaksana Ibu Euis Komariah, S.Pd. Kegiatan tersebut juga menjadi respon adanya fenomena pembusukan otak akibat kecanduan menonton video pendek dalam gawai. Sementara itu dalam sambutannya kepala sekolah Bapak Achmad Faozan, Lc.MM. menyampaikan pentingnya membaca, pentingnya literasi. Dan seorang guru tidak cukup hanya meminta murid membca, melainkan juga harus membaca.